Posted by: kringsmi | October 1, 2008

CATATAN CINTA DARI LOURDES (1)


Di Lourdes, di gua sunyi terpencil … … … ……


by Hertin

Syair lagu itu terus menggema di hati saya sepanjang perjalanan daratan Eropa. Namun begitu bis rombongan mendekati Lourdes yang terletak di kaki rangkaian pegunungan Pyrenea, Perancis Selatan, hati saya tersentak melihat Lourdes tidak sesunyi dan seterpencil seperti yang saya bayangkan. Deretan hotel, guest house, apartemen, toko souvenir serta berbagai fasilitas lain siap menyambut ribuan peziarah yang datang setiap hari dari berbagai penjuru dunia.
Hujan rintik-rintik serta angin pegunungan yang dingin ke lembah tidak menyurutkan semangat dan langkah kaki saya untuk berjalan dari hotel menuju Grotto/Gua Massabielle, tempat di mana Bunda Maria menampakkan diri kepada Bernadette Soubirus untuk pertama kali pada tanggal 11 Pebruari 1858.
Selama 18 kali penampakan kepada Bernadette, gadis yang miskin dan sederhana, Bunda Maria menyampaikan beberapa pesan, antara lain: Dia Yang Dikandung Tanpa Noda meminta kita untuk berdoa dan bertobat.

Sebelum tiba di depan gua, saya merasa kagum melihat Gave de Pau yang jernih mengalir deras melalui depan Gua Massabielle. Aliran sungai Gave de Pau yang deras seolah-olah tak henti-hentinya menghanyutkan segala dosa kita yang bertobat berganti dengan aliran cinta yang tak pernah kering serta kerendahan hati yang didambakan.
Saya begitu terharu mengingat betapa besarnya cinta kasih Tuhan dengan perantaraan Bunda Maria mengabulkan doa dan impian saya sekian lama untuk dapat melangkahkan kaki ke Lourdes. Saya berlutut dan mencium tanah basah di depan gua. “Terima kasih Bapa. Terima kasih bunda. Terima kasih Yesus.” Tak ada ukiran kata lebih indah yang dapat saya bisikan selain ‘Jadi Manusia Baru’ setelah pertobatan.

Untuk mendekati gua, rombongan berdiri antri, berjalan pelan sambil berdoa. Batu dinding gua kelihatannya telah licin mengkilat akibat sentuhan dan rabaan para peziarah. Di sebelah kiri bagian belakang gua, di bawah permukaan lantai kita dapat melihat sumber air yang pernah digali Bernadethte dengan tangannya atas petunjuk Bunda Maria. Sumber air itu ditutupi dengan pelat kaca di atasnya sehingga jelas kelihatan aliran airnya.
Lilin panjang dinyalakan di tempat lilin khusus yang telah disediakan di sebelah kanan gua. Sinar lilin melambangkan doa serta menerangi dan menghangatkan suasana malam yang semakin dingin di lembah. Setelah menyalakan lilin, saya berdoa sejenak di depan gua sebelum kembali ke hotel untuk makan malam.

Pukul 12 tengah malam saya besama dengan seorang teman dari Surabaya kembali ke gua untuk berdoa pribadi. Suasana hening menyentuh hati untuk ‘bercakap-cakap” dengan Bapa serta Bunda walaupun rintikan hujan mulai turun lagi membasahi kepala kami. Saya coba untuk bertahan beberapa menit sebelum pindah ke pinggir gua. Dingin udara malam menembus sweater dan syall yang dikenakan. Tak disadari kami adalah peziarah terakhir malam itu meninggalkan gua. Gerbang utama depan telah tutup. Melalui gerbang lain kami kembali ke hotel.

Jalan-jalan sepi dan lampu koridor hotel yang telah dipadamkan sempat membuat teman saya sedikit kuatir dan takut. Tapi cinta mengalahkan segalanya. Kita bisa istirahat dengan baik untuk persiapan misa serta jalan salib keesokan pagi.

(to be continued)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: