Posted by: kringsmi | January 1, 2009

CATATAN CINTA DARI LOURDES ( 3 – habis )

by Hertin

Pada tanggal 25 Pebruari 1858, pada penampakan-Nya ke-9 di Gua Massabiele, Bunda Maria berkata kepada Bernadette: “Pergilah minum dari mata air itu dan bersihkan dirimu”. Seperti kita ketahui sebelumnya, atas petunjuk Bunda Maria, Bernadette pergi ke tanah bagian belakang dalam gua, menggali tanah di kiri gua itu dengan tangannya sendiri sehingga air mengalir keluar tak henti-hentinya hingga kini. Air dari sumber Gua Massabiele ini diambil para peziarah untuk minum, membasuh muka serta membersihkan diri. Semua mengingatkan kita akan pembaptisan dan hidup baru dalam Roh Kudus.

Kesempatan untuk mandi air suci Lourdes pada siang hari itu seusai jalan salib juga tidak disia-siakan oleh rombongan peziarah. Kami rela antri cukup lama menunggu giliran untuk dapat ‘diceburkan’ ke bak mandi dengan air yang dingin sekali. Sambil duduk, bergeser dari bangku satu ke bangku lain seperti layaknya menunggu giliran pengakuan dosa, para rombongan peziarah dari berbagai bangsa berdoa rosario dengan bahasa mereka masing-masing. Kita rombongan Indonesia juga mendapat kesempatan menyahut Salam Maria dalam bahasa Indonesia.

Luar biasa perasaan saya melambung atas kebesaran Tuhan. Lagu-lagu selingan selama doa rosario juga memberi semangat dan kesabaran pada kami. Senyum tersungging di bibir menghiasi wajah ceria para peziarah yang telah usai ‘dimandikan’ di kolam air oleh 2 petugas.
Persiapan iman yang kuat memang diperlukan, agar dapat mengalahkan bisikan setan yang bekerja di tempat suci tersebut. Perasaan was-was meninggalkan begitu saja tas, uang dan barang berharga di ruang ganti yang juga dipakai oleh banyak orang yang tidak dikenal. “Amankah?” Perasaan kuatir akan air di bak mandi yang sudah dipakai untuk ‘menceburkan’ banyak orang apalagi yang sakit. “Hygieneskah?” Ada penyesalan di hati saya, kenapa bisikan setan itu ada di sana. Apakah mungkin karena pengaruh pengalaman duniawi di gereja-gereja kota besar, sering ada peringatan untuk tidak meninggalkan tas di bangku duduk? Namun apa pun penyebabnya, yang penting bagi peziarah adalah membuang semua pikiran negatif atas pengalaman duniawi, kemudian menanamkan iman kepercayaan akan belas kasih Allah serta pertolongan Bunda Maria senantiasa.

Tak terasa sore menjelang di mana para peziarah telah bersiap-siap untuk ikut perarakan lilin. Dengan membawa lilin panjang, beberapa orang dari rombongan kami berangkat menuju podium lebih awal untuk bergabung dengan para peziarah lain yang akan menyanyikan lagu Ave Maria dan mengucapkan Salam Maria dengan bahasa negara masing-masing.

Di pelataran Basilika Bawah tersebut, rombongan Indonesia ditempatkan persis di bagian tengah diapit oleh romboangan dari India dan Inggris. Sementara itu cahaya ribuan lilin mulai menerangi lapangan besar di depan Basilika. Prosesi lilin mulai bergerak perlahan diiringi lantunan lagu Ave Maria dalam berbagai bahasa silih berganti. Perasaan saya ikut ‘terangkat’ setiap lilin dilambaikan dan diangkat tinggi diiringi ‘Ave, Ave, Ave Maria’.

Setelah giliran rombongan kita selesai menyanyikan sebait lagu ‘Di Lourdes di gua sunyi terpencil……’ serta doa Salam Maria, saya semakin menyadari betapa besarnya kasih Tuhan dan Bunda pada umatnya sehingga saya mendapat kesempatan ikut menyanyi di podium bersama umat negara-negara lain. Tak bisa saya ungkapkan kebahagiaan hati dan betapa indahnya malam itu. Perarakan diakhiri dengan doa Credo, Salve Regina serta berkat dari uskup dan para pastor yang hadir.

( tamat )


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: